Pahlawan Tanpa Pamrih Jasa





“Yang paling hebat dari seorang guru adalah mendidik, dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar.”

Kh. Maimoen Zubair

 

Saya menjadi guru sejak tahun 2015. Saat itu saya masih skripsi dan kampus tempat saya kuliah, berada di kota yang berbeda dengan tempat saya mengajar.

Menjalani hari-hari sebagai guru cukup menyenangkan, karena saya memang senang bertemu dan melihat tingkah laku anak-anak. Saya mengajar di sebuah madrasah ibtidaiyah, lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah.

Madrasah tempat saya mengajar memiliki jam belajar yang sedikit berbeda dari sekolah yang lain. Jika umumnya sekolah masuk pukul 07.00 WIB, maka di madrasah ini, pembelajaran dimulai pukul 06.00 WIB. bukan tanpa alasan, melainkan, karena waktu pagi adalah waktu yang baik, untuk memberi nutrisi pada akal fikiran dengan siraman qurani. Sehingga waktu pagi sebelum pembelajaran mata pelajaran umum dilakukan, terlebih dahulu semua siswa harus melaksanakan kegiatan ngaji alquran.

Selain kelas TPQ yang kegiatannya dijadikan satu dengan kegiatan pembelajaran sekolah, madrasah ini juga unik, karena memiliki karakter yang kuat ala pesantren. Setiap jenjang, mulai dari kelas satu sampai kelas enam, semua mendapatkan porsi pembelajaran kitab kuning sebagai muatan lokal wajibnya. Sebagai contoh di kelas satu, ada kitab Alala, kelas dua kitab Aqidatul Awwam dan kelas tiga mempelajari kitab Tanbihul Muta’allim.

Guru formal yang ditugaskan mengajar ngaji alquran tidak semua. Saya adalah satu-satunya guru laki-laki yang mendapatkan tugas mengajar ngaji.

Setiap hari, jam enam pagi saya sudah berada di sekolah. Mengajar alquran lengkap dengan tajwid beserta ghorib-nya. Mengulang ayat demi ayat, memberikan koreksi pada bacaan siswa. Sampai jam setengah delapan, kelas mengaji selesai dan siswa kembali ke ruangan kelas formalnya masing-masing. Saya pun sama, ketika jam mengaji berakhir, saya akan kembali ke kelas di mana ruang saya mengajar. Saya adalah guru kelas, jadi saya memiliki kelas khusus seperti ruang saya sendiri.

Saya biasa masuk kelas hanya untuk meletakkan tas dan buku, kemudian keluar ruang kelas lagi. Saya tidak mau membuang-buang waktu saya, sembari menunggu bel masuk jam pertama pembelajaran, saya sempatkan untuk mengecek kamar mandi siswa. Ya, sekadar untuk mengecek bak air yang kosong, atau menyiram kloset yang kotor. Jika masih ada waktu, terkadang juga saya sempatkan mengepel lantai kelas dan serambi kelas.

Bel masuk berbunyi, saya mulai melaksanakan tugas saya sebagai guru sesuai dengan undang-undang no. 14 tahun 2005, bahwa guru adalah tenaga pendidik profesional yang memiliki tugas utama untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik. Saya melaksanakan kegiatan mengajar sampai dengan jam satu siang.

Jam pelajaran selesai, siswa dan guru beranjak pulang. Tersisa beberapa siswa saja yang harus menunggu teman yang lain lengkap. Mereka adalah siswa-siswi yang menggunakan fasilitas mobil antar jemput sekolah, dan saya adalah sopirnya. Saya mendapatkan tugas tambahan dari yayasan untuk mengantarkan pulang siswa. Sehingga jam pulang saya sedikit berbeda dengan guru lain. Mungkin, jika guru yang lain langsung pulang usai pembelajaran, istirahat di rumah dan bertemu keluarga. Saya masih diperjalanan.

Alhamdulillah, sekitar jam tiga saya baru memarkir mobil di halaman sekolah. Mengayuh sepeda pulang ke rumah. Istirahat sambil bersenda gurau dengan anak, istri, cukup mengobati lelah.

Ketika anak sudah terlelap, istri istirahat, saya memanfaatkan beberapa jam waktu malam untuk mengerjakan tugas lain untuk lembaga, membuat desain postingan dan merencanakan konten media sosial. Sejak awal masuk menjadi guru, saya selalu mengajak lembaga untuk mulai mengenalkan diri di media sosial. Saya selalu bilang bahwa hal itu kelak penting dan dibutuhkan untuk kemajuan lembaga, hingga saya membuat program yang saya ajukan ke yayasan agar mendapat dukungan. Namun, karena pada tahun 2015, penggunaan media sosial belum seperti sekarang, saya hanya mendapat support verbal saja dari rekan guru. Karena ini program yang sudah saya buat, maka saya tetap komitmen untuk mengerjakannya sendiri.

Semua kegiatan yang saya lakukan di sekolah, tidak semata-mata saya lakukan karena rupiah. Banyak dari kegiatan yang saya lakukan karena saya mengharap berkah. Saya tidak itung-itungan, bahkan saya tidak bisa membaca slip gaji bulanan. Bagi saya, menjadi guru adalah pilihan, dan pilihan terbaik adalah mengharap keberkahan.

 

***

Semua yang saya lakukan memang terlihat biasa. Sebagian mungkin akan berkata “Guru ya seperti itu, tugasnya tidak ada habisnya. Uangnya tidak seberapa.”

Memang benar, setiap pekerjaan harus dibayar dengan setimpal. Ada pekerjaan, maka ada bayaran. Namun, bagi saya guru tidak hanya sekadar profesi biasa. Jika pekerjaan guru harusnya dihargai sepadan, maka bagi saya tidak ada nilai yang pantas untuk menyamai angka dari pekerjaan yang sudah guru lakukan.

Banyaknya pekerjaan yang diemban guru, tentu saja membuat lelah, tentu menyita waktu, menguras tenaga, bahkan sampai melupakan keluarga. Maka, jika pengorbanan yang guru lakukan ditimbang dengan nominal rupiah, jelas tidak sesuai.

Jika ditahun ini gaji guru non PNS berkisar 300 ribu sampai satu juta rupiah. Pertanyaanya, apakah nominal itu bisa menggantikan uang lelah guru yang bekerja tidak hanya saat di sekolah, namun juga di rumah? Jika seandainya guru jatuh sakit, apakah nominal itu cukup membayar biaya pengobatannya? Lalu, bagaimana dengan waktu bersama keluarga yang sudah guru relakan hilang, untuk mengerjakan tugas pendidikan? Sepadan kah uang bayaran yang ia terima?

Itulah, mengapa menurut saya berapa pun nominal yang diberikan kepada guru, tidak mampu menggantikan pengorbanan yang telah ia berikan.

Pendidikan bukan hanya tentang belajar dan mengajar. Pendidikan juga bukan gaya hidup dan kasta sosial. Pendidikan adalah jalan untuk memperbaiki masa depan. Artinya, pendidikan adalah proses belajar tiada henti. Belajar tidak boleh berhenti, apalagi hanya karena alasan biaya, atau hal teknis lainnya. Dengan memandang bahwa pendidikan harus tetap dijalankan, maka mengerjakan segala hal untuk mendukung berlangsungnya pendidikan, adalah sebuah tugas mulia. Dan tugas itu banyak dilakukan oleh guru. Guru tidak hanya disebut sebagai pahlawan tanda jasa. Namun, juga pahlawan tanpa pamrih jasa.

Sebaik-baik pemberi adalah Allah azza wajalla. Yang akan menggantikan semua kebaikan yang telah guru berikan kepada anak didiknya. Yang balasannya tidak akan luput sedikit pun. Maka mengharap balasan dari Allah adalah harapan yang paling baik.

***

Jendela inspirasi :

a.       Menjadi guru adalah perjuangan meraih kebaikan masa depan

b.      Upah berapa pun itu baik, asalkan berkah

c.       Berharap kepada Allah-lah untuk keberkahan pekerjaanmu

***

Posting Komentar

0 Komentar