Si Pemalu yang Mampu
Rizal Taufiq
Aku hanyalah anak desa yang hidup biasa saja. Selain itu
juga aku adalah anak yang kurang bisa beradaptasi dengan teman sebaya, bukan
aku tidak mau tapi lebih karena aku tidak tahu caranya. Aku anak yang cukup
pemalu, saking pemalunya hanya sekedar untuk berkata “Monggo ,“ saat berjalan
berpapasan dengan orang lain saja bagiku cukup berat. Hingga pernah suatu
ketika ada seorang tetangga yang berbeda gang datang kerumah hanya untuk
mengadu ke orang tuaku agar menasihatiku supaya tidak jadi anak yang angkuh,
kalau ketemu tetangganya ya suruh nyapa. Lucu memang kalau ingat hal itu. Tapi
waktu itu perasaanku yang masih kelas 1 MTs menerima kejadian itu sebagai
pukulan sedang yang menohok perasaan. Karena
aku tidak sama sekali punya niat untuk menjadi angkuh atau sombong,
semua terjadi karena aku yang pemalu.
Saat di bangku kelas
XI SMA. Ada tugas presentasi dari salah satu mata pelajaran, satu kelas terbagi
menjadi beberapa kelompok dan maju bergantian. Tibalah giliran dimana kelompokku
harus ke depan , memaparkan hasil
diskusi dan membuka sesi pertanyaan. Pertanyaan pertama lancar dijawab oleh
salah satu teman anggota kelompokku, pertanyaan kedua juga lancar dijawab oleh
anggota kelompok yang lain. Muncul pertanyaan ketiga, waktunya aku yang
menjawab. Dan akupun berhasil, berhasil membuat seisi ruang kelas kebingungan
dengan jawabanku termasuk guruku. Aku disuruh mengulang–ulang jawaban sampai tiga kali dan ketiga–tiganya sama sekali tidak memahamkan. Guruku pun
membantu dengan menyimpulkan apa yang aku sampaikan. Kelas pun tetap terkondisikan tetapi rasa malu di pikiran tidak terhindarkan.
***
Sejak kecil aku bercita–cita
menjadi guru, kenapa guru? karena
menurutku mereka menginspirasi. Mereka piawai dalam berbicara sehingga bisa
mencetak banyak orang hebat. Tidak hanya sekedar menjadi seorang guru, aku
ingin menjadi pembicara hebat. Pembicara yang tidak hanya di dalam kelas, tetapi di ruang besar dengan pendengar ratusan. Aku memang
suka bercerita, terlebih cerita yang bisa membuat orang lain bertindak untuk
berubah.
Waktu kecil aku termasuk anak yang ramai ketika di rumah .
Aku suka bermain peran sendiri, menghayal menjadi seorang tokoh dan meluapkan
ekspresi dalam setiap kegiatan khayalan
yang aku ciptakan. Jika sedang bosan bermain peran, aku biasanya akan
bermain action figure dengan setting tempat dan berbagai macam dialog penokohan
yang muncul seadanya difikiranku. Awalnya aku berpikir itu akan sangat menunjangku yang ingin menjadi
seorang pembicara, ternyata tidak. Aku tidak bisa menjadi orang yang sama
ketika di luar rumah.
Pemalu, merasa asing, tidak punya teman,
pikiran–pikiran itu selalu muncul di
kepalaku . Membuatku semakin merasa tidak percaya diri. Aku tidak tahu apa yang
terjadi denganku waktu itu, yang aku bisa pahami hanyalah aku berbeda. Aku
sangat tertekan dengan kondisiku yang seperti ini.
***
Masa SMA berlalu. Aku
ingin berubah, lebih fokus pada tujuan hidupku yang ingin menjadi seorang
pembicara. Aku yakin bangku perkuliahan akan banyak memberiku pengalaman.
Awal perkuliahan dimulai, aku bertemu teman baru, saling
berkenalan dan mulai merangkai keakraban. Satu minggu sudah aku menjadi
mahasiswa. Teman satu angkatan di jurusan
yang aku ambil sudah saling akrab seperti saudara. Keakraban dan
solidaritas yang terjalin tidak sekedar hanya pada saat jalan atau main saja,
tetapi kepedulian teman seangkatan di
kelasku waktu itu juga ada pada motivasi
belajar. Teringat dengan ketua kelasku yang mencoba mengajak teman-teman untuk belajar melatih kemampuan berbicara
disela–sela jam kosong. Namanya
mahasiswa, aktifitasnya tidak jauh dengan presesntasi, ajakan itu memang
bertujuan agar kita yang masih semester satu ini setidaknya bisa berbicara di
depan kelas, diawali dengan berlatih
saat tidak ada dosen.
Majulah ketua kelasku kedepan, dengan sedikit
terbata–bata dia berbicara “Ayo
rek, belajar ngomong. Belajar
presentasi. Kita harus bisa presentasi“ . Menurutku dia memang ketua kelas yang
baik, karena tidak hanya mengajak dia juga memberi contoh langsung kepada kita.
aku salut dengan dia.
Ketuaku sudah menyiapkan selembar kertas materi untuk
dibacakannya di depan teman sekelas. Dia
mulai dengan mengucap salam, dilanjutkan dengan memberikan perkenalan awal.
Selembar kertas yang dipegang tangan kanannya mulai diangkat , dia membaca
baris pertama tulisan di kertas , terlihat kertas yang ada di tangan kanannya sedikit bergerak–gerak . Ia
lanjutkan membaca baris kedua dan ketiga, kertasnya bergetar hebat, tangan
kiripun membantu memegangi kertas itu. Dia lanjutkan membaca lagi, bukannya
semakin terkondisikan, dua tangan yang memegang kertas itu nampaknya tidak
sanggup menahan gemetarannya yang terjadi hampir di sekujur tubuh. Keringat menetes dari segala area di
tubuhnya , tetapi ia masih membaca. Dua
tangan yang memegang kertas tadi menyerah, kertaspun diletakkan di bangku depannya, kedua tangan berpindah memegang
pinggiran bangku berharap mendapatkan tumpuan kuat dan mengurangi gemetarnya.
Tetapi yang terjadi malah sebaliknya, rasa gugupnya menciptakan energi getar
tubuh yang luar biasa, bangku yang ia pegang juga ikut bergetar dan menimbulkan
bunyi gemruduk. Percontohan presentasi pun
ia akhiri dengan ending yang
cukup membuatnya berkeringat dan membuat teman sekelas tertawa.
Melihat kejadian tersebut, aku yang duduk di bangku belakang juga tertawa kecil. Tetapi tidak
lama, pikiranku sudah beralih mencoba
mencerna hal positif yang aku dapatkan dari perilaku ketua kelasku. Aku mulai
sadar, sepertinya aku tidak boleh lagi menjadi pemalu yang tidak berani
berbicara di depan orang. Jika ketua kelasku saja yang seperti itu
berani tampil kedepan, tentunya aku juga bisa dan akan lebih baik.
Sejak saat itu aku mulai terus berlatih berbicara. Di rumah,
di jalan, di kampus , di manapun aku terus melatih cara bicaraku dengan
berkhayal menjelaskan sesuatu kepada
orang lain. Sebelum tidur pun aku
berlatih sambil berbaring dan muka tertutup bantal, aku tidak mau melewatkan
sedikit pun waktu tanpa berlatih
berbicara. Alhamdulillah, usahaku berbuah hasil di presentasi pertamaku di kelas . Dan aku pun pernah dipilih menjadi MC wisuda oleh panitia
wisuda kampus pada tahun 2014.
***
Tahun 2015, tahun di mana
aku baru lulus kuliah. Aku berprofesi menjadi seorang guru, cita –
citaku tercapai. Senang rasanya menjadi
seorang guru, di sekolah aku belajar
banyak hal mengenai cara memperhatikan anak. Mulai dari cara menghadapai anak saat rewel,
membujuknya supaya mau mengerjakan tugas saat dia malas, sampai membersihkan
celananya saat dia harus terpaksa buang air di celana . Tapi yang paling
membuatku bahagia menjadi seorang guru adalah, kesempatan diri untuk melatih
berbicara di depan umum.
Sering aku berlagak seperti seorang pendongeng saat
mengajar, kadang juga seperti seorang motivator yang sangat memotivasi. Kadang
juga seperti seorang pelawak yang setiap ucapannya membuat murid
terpingkal–pingkal . Tidak hanya itu, di sekolah aku juga disebut guru lain sebagai guru
seribu album, karena aktivitas
mengajarku yang tidak jauh dari mengajak murid bernyanyi hampir disetiap
pertemuan. Indah sekali rasanya menjadi guru saat aku tidak meributkan gaji
atau upah yang dari zaman dulu
dipersoalkan banyak orang tapi tidak kunjung ketemu solusinya. Aku lebih
happy mengajar, mengajak murid bersenang–senang di sekolah dan melatih kemampuanku berbicara.
Tahun demi tahun aku lalui, perjalananku mengajar di
sekolah sudah memasuki tahun keempat.
Sekolahku memang sekolah di tengah
pedesaan, meski begitu prestasinya bagus. Setiap tahunnya siswa yang mendaftar meningkat.
Melihat perkembangan zaman dan peningkatan siswa yang baik, pimpinan yayasan
dan kepala sekolah memiliki gagasan untuk membuat sekolah dengan konsep
Bilingual Class. Pembelajaran yang dilakukan di kelas memakai dua bahasa, yakni bahasa Indonesia
dan bahasa Inggris . Peminatnya pun semakin meledak berdatangan dari luar
kecamatan.
Siapa sangka, ternyata prestasi yang diperoleh sekolah tidak
diimbangi dengan manajemen yang bagus.
Sehingga terjadi protes dari wali murid yang menuntut banyak janji. Di
sisi lain kondisi guru juga memprihatinkan,
karena tidak bisa berbuat banyak. Dari atasan para guru mendapat preasure
karena dianggap sebagai penyebab buruknya kondisi wali murid, sedangkan dari
wali murid guru selalu mendapat desakan pertanyaan–pertanyaan tentang kebijakan–kebijakan di luar nalar dari direktur sekolah. Keruhnya masalah
tanpa ada solusi yang segera hadir, membuatku drop dan di rawat di RS. Aku sudah seperti kehilangan harapanku
untuk belajar menjadi seorang pembicara. Tetapi aku tidak boleh menyerah, dua tahun aku mempertimbangkan, dan di
tahun 2022 aku memutuskan untuk keluar
dari sekolah ini.
***
Aku mendaftar dan diterima mengajar di sekolah kenamaan di kotaku. Sekolah berbasis
Islam yang tidak menutup diri dengan
modernisasi. Di sini aku berharap bisa
kembali menata diri, mengambil lagi semangat belajar yang sempat hilang. Aku
adalah pembelajar sejati, aku tidak akan pernah berhenti mengejar mimpi. Aku
sudah berumah tangga dan memiliki dua orang putra. Sederhana saja, aku ingin
sukses dan berguna bukan untuk menjadi
terkenal, tapi aku ingin supaya nanti anak–anakku bisa belajar dari ayahnya. Tidak perlu aku
banyak bercerita siapa aku pada kedua anakku, tapi biar mereka mengerti siapa
ayahnya, dari hasil karyanya.
Aku
mengawali perjalanan baruku dengan menulis, menulis pendapat–pendapat sederhana dari keresahan atau pengetahuan
yang pernah aku rasa. Kemudian tulisan itu aku unggah di sosial media. Tidak nyambung memang, jika menulis dikaitkan
dengan pembicara. Tapi ternyata Alhamdulillah, banyak yang menerima tulisanku.
Banyak yang terwakili keresahannya. Aku sangat senang dan bersyukur. Dalam
waktu tiga bulan saja followers
instagramku yang awalnya hanya mempunyai 126 followers kini sudah menjadi 40 ribu followers .
HP
android bututku mulai sering berdering, banyak orang yang tidak aku kenal
menghubungiku. Mereka mengajak kerjasama memintaku untuk mengisi materi secara
online , aku yang sebelumnya belum memiliki pengalaman mengiyakan saja
penawaran mereka. Aku tidak mau menyia–nyiakan
kesempatan. Sekali lagi Alhamdulillah. Meski yang aku ingin adalah
menjadi pembicara offline , tapi ini juga suatu hal yang luar biasa.
Hari
berganti hari, aku masih dengan aktivitasku
menulis di instagram. Tidak sengaja aku membuka fitur pesan. Ada sebuah
pesan masuk, dari Project Manager
program Wardah Isnpiring Teacher
yang mengundangku menjadi narasumber di pertemuan yang diadakan di
Palembang. Begitu terkejut aku mendapat pesan itu. Seketika aku bilang kepada
istri dan orang tua. Mereka juga sangat bahagia mendengarnya. Tepat pada
tanggal 2 desember anak desa ini naik pesawat menuju Palembang untuk pertama
kalinya. Dan menjadi narasumber tidak hanya sebagai pembicara, tetapi sebagai
salah satu bagian dari guru inspiratif.
Rizal Taufiq, adalah seorang guru desa yang juga menjadi
seorang konten creator , bisa dihubungi melalui akun instagram @rizaltaufiqh


0 Komentar