“Terkadang diam membuat kita terlihat bodoh, tetapi diam adalah cara yang bijak saat kita memang tidak tahu apa-apa.”
Pagi itu saya hadir dalam sebuah acara walimatul ursy. Terkesan dalam ingatan, isi ceramah yang disampaikan oleh ustad saat mengisi mauidzoh. Beliau ingin memberi nasihat kepada kedua pengantin dan para tamu undangan tentunya.
Ustad yang tidak saya ingat namanya ini, bercerita tentang seorang kekasih Allah swt. yang diberi keistimewaan karena dia telah bersabar menghadapi segala perilaku negatif istrinya.
Kisah ini datang dari Hadramaut, di sebuah desa ada seorang bernama Abdurrahman Bajalhaban. Dia memiliki istri yang terkenal sangat cerewet. Tidak hanya cerewet, terkadang perilakunya pun tidak sama sekali menunjukkan rasa hormat kepada sang suami.
Untungnya saja Syekh Bajalhaban adalah seorang yang sabar menghadapi istri. Apa pun sikap dan perkataan istrinya, tidak pernah ia balas dengan hal yang sama. Dia lebih memilih diam. Bila memang merasa capek dengan sikap dan perilaku istrinya, Syekh Bajalhaban akan pergi keluar sebentar dari rumah untuk sekadar menenangkan diri.
Suatu hari, terbersit dalam hatinya untuk berkhalwat. Syekh Bajalhaban merasa ingin waktu menyendiri agar bisa lebih fokus dan tenang beribadah kepada Allah Swt. Beliau mengusahakan untuk dapat lebih dekat dengan Sang Pencipta. Pamitlah syekh kepada istri, dan seperti biasa jawaban yang panjang dan lebar dia peroleh.
Syekh Bajalhaban berangkat menuju sebuah Gunung. Di sana dia melihat gua, bergegaslah Syekh Bajalhaban menuju gua itu untuk segera melaksanakan niatnya. Di dalam gua ternyata tidak kosong, ada tiga orang yang berkumpul dan sepertinya mereka juga sedang berkhalwat. Syekh Bajalhaban masuk kedalam gua, memberi salam serta meminta izin untuk bergabung.
“Assalamu’alaikum, bolehkah saya ikut bergabung di sini bersama kalian?” tanya Syekh.
“Silakan, tetapi dengan syarat, seandainya datang waktu makan, kamu harus mau berusaha untuk mendapatkan makanan!” Salah seorang menjawab.
“Baiklah, saya menerima persyaratannya,” jawab Syekh.
Bergabunglah syekh bersama tiga orang itu. Sampai tiba waktu makan, salah seorang dari mereka menengadahkan tangan sambil berdoa. Tiba-tiba muncullah makanan dalam sebuah nampan. Melihat hal itu Syekh Bajalhaban kaget, bagaimana bisa?
Keesokan harinya, saat tiba waktu makan. Seorang yang lain pun melakukan hal yang sama. Menengadahkan tangan sambil berdoa. Kemudian makanan pun di depan mata. Satu nampan makanan pokok lengkap dengan lauk pauknya. Cukup sekali untuk mereka berempat makan.
Hari berikutnya, orang ketiga juga melaksnakan tugasnya. Masih tetap sama cara dan hasilnya. Ternyata tiga orang tersebut merupakan para kekasih Allah yang sedang berkhalwat mendekatkan diri pada-Nya. Tidak heran jika setiap doanya sangat cepat di ijabah. Hal itu membuat Syekh Bajalhaban bingung sekaligus khawatir, bagaimana nanti ketika tiba saatnya dirinya yang harus mencari makan?
Hari berganti, tiba waktunya Syekh Bajalahaban melaksanakan tugas pertamanya untuk mencari makan. Dalam hatinya berkata, Apa yang harus aku lakukan? Apakah doaku bisa semanjur doa mereka? Syekh Bajalhaban mulai mengangkat kedua tangannya. Dengan penuh keyakinan dia berdoa. Berharap doanya bisa maqbul seperti ketiga temannya yang lain. Usai doa dipanjatkan, hadirlah di hadapan mereka empat nampan makanan. Semua kaget, tercengang, bila dari kemarin setiap ada yang berdoa akan diberi Allah satu nampan makanan yang cukup untuk mereka berempat. Kali ini, setelah Syekh Bajalhaban berdoa, datang empat nampan makanan. Ketiga teman Syekh bingung dan penasaran.
“Hai pak, doa apa yang sebenarnya engkau baca? Sampai bisa mendapatkan empat nampan makanan seperti ini?”
Syekh pun menjawab “Aku hanya berdoa kepada Allah dengan bertawasul kepada orang yang kalian tawasuli.”
“Apakah engkau tahu siapa orang yang kami tawasuli saat berdoa?” lanjut orang itu bertanya.
“Tidak” jawab Syekh singkat.
“Kami bertiga bertawasul pada seorang wali Allah yang tinggal di sekitar pegunungan ini, banyak ulama yang mengatakan, beliau mendapatkan derajat yang tinggi, karena telah bersabar menghadapi istrinya yang cerewet.” Teman Syekh menjelaskan.
“Siapa nama wali itu?” tanya syekh.
Seorang dari mereka menjwab, “Namanya adalah Abdurrahman, Syekh Abdurrahman Bajalhaban.”
Syekh Bajalhaban sangat kaget mendengar nama yang disebutkan, bukankah itu namanya sendiri? Setinggi itukah derajatnya di sisi Allah, hingga Allah mengabulkan doanya dengan begitu luar biasanya? Ternyata derajat sabar menghadapi istri jauh lebih besar. Syekh Bajalhaban pun memutskan untuk pamit saja dari gua tempatnya berkhalwat, dan segera bergegas pulang kembali pada istrinya.
***
Kebanyakan para suami lebih memilih untuk melawan perkataan istri saat terjadi sedikit beda pendapat. Dengan alasan suami tidak boleh kalah sama istri lah, laki-laki adalah pemimpin lah, atau mirisnya alasan jangan mau diatur-atur istri. Memangnya kalau tidak ada istri, bisa mengatur rumah tangga sendiri?
Tapi bukankah dalam berumah tangga harus terjalin komunikasi?
Memang benar dalam rumah tangga harus terjalin sebuah komunikasi. Namun, tentu komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi dua arah. Yang di dalamnya bermuatan unsur nasihat yang baik. Bukan komunikasi yang berujung pada saling menghardik antara suami dan istri, atau komunikasi untuk mencari kemenangan. Komunikasi semacam ini biasanya akan menghalalkan segala cara.
Seandainya kita mau sedikit berpikir, jika seorang istri cerewet, kita sebagai suami harusnya introspeksi. Mungkin ada kebutuhannya yang memang belum terpenuhi, atau kita sebagai suami tidak pernah membantu meringankan pekerjaan rumah, sehingga istri kecapean sendiri.
Diceritakan oleh istri Nabi tercinta, Aisyah r.a, “Bahwa Nabi saw. di dalam rumah melakukan kerja-kerja untuk keluarga, ketika datang waktu salat, akan bergegas keluar untuk salat.” Dalam beberapa riwayat, lebih jelas disebutkan, bahwa Nabi juga di rumah mengesol sandal, menjahit baju, menambal bejana, memeras susu dan melayani keluarga. Itu artinya seorang lelaki tidak hanya menjadi pemimpin yang pandai menyuruh, tetapi juga pandai memberi teladan, teladan dalam merawat diri sendiri dan keluarga.
Ah, saya sudah melakukan itu, tetapi tetap saja istri cerewet, apa saja yang saya lakukan tidak ada benarnya! Lalu bagaimana?
Jika cerewetnya istri tidak terarah, berbicara serampangan, maka suami harus mengingatkan. Namun, perhatikan terlebih dahulu waktu dan kondisinya. Jika apa yang dikatakan istri benar adanya, baik tentang suami atau hal lain, sebaiknya diam akan jauh lebih bijak. Diam dengan niat memuliakan wanita. Memberikan kesempatan istri untuk mengungkapkan perasaannya akan sangat berharga, dari pada istri bercerita di sosial media. Aib keluarga akan kemana-mana. Teringat sebuah hadis yang artinya, “Sebaik-baik orang-orang mukmin adalah mereka yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kamu adalah mereka yang berbuat baik pada istrinya.” (HR. Tirmidzi)
Berat menghadapi istri cerewet? Seimbang kok, dengan balasan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang mau bersabar pada istri. Intinya jangan ngeyel. Terima saja. Keberkahan akan datang. Masih tidak percaya? Coba baca lagi cerita di awal tulisan ini!
***
Jendela isnpirasi :
Muliakanlah istri dengan niat mengikuti sunah Nabi.
Bersikap baik dan lembut pada istri adalah jalan menjemput keberkahan.
Suami harus lapang hati untuk bisa memaafkan kesalahan istri.
Raih derajat tinggi dengan menyayangi istri.
.png)

1 Komentar
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus