MENJAHIT PAHIT


 

   Pagi di Kanduri selalu datang pelan-pelan. Matahari meneteskan cahaya di ujung daun pisang, sementara angin menyapu halus tanah merah yang mengering.


    Di antara embun dan daun-daun kering, langkah Ufiq terdengar pelan. Sapu lidi menari di tangannya, menyusuri halaman sekolah yang sepi. Anak-anak belum datang, dan guru-guru masih di rumah. Hanya suara ayam dan sesekali decit sepeda tua melintas yang ikut mengisi irama pagi.


    Baginya, menyapu bukan pekerjaan hina. Justru di situ ia merasa berguna. Setiap dedaunan yang ia singkirkan seperti menghapus luka kecil di hatinya. Iya, luka karena hidup tak memberinya banyak pilihan sejak kecil.


    Sudah dua tahun ia menyapu di SD Negeri 3 Kanduri. Gaji kecil, tak berseragam, tapi cukup untuk makan berdua bersama ibunya. Kadang ditambah lauk tahu goreng, kadang hanya kerupuk dan sambal.


    Sejak ayahnya meninggal tujuh tahun lalu, ibunya menjadi segalanya. Sosok lembut yang selalu memberi pelukan sebelum tidur, dan senyuman indah yang selalu merekah, meski isi dapur hanya air hangat.


***


    Satu sore, di beranda rumah kayu mereka yang mulai miring, ibunya duduk sambil melipat kain batik tua. Kain itu peninggalan ayah. Motifnya klasik, berwarna cokelat gelap dengan garis-garis biru laut.


    “Ibu tahu, setelah ini kamu mau diundang di acara kelulusan tempatmu bekerja. Kamu butuh baju, kan?”


    Ufiq hanya terseyum tanpa berkata apa pun.


    “Ibu ingin menjahitkan  kain ini buat kamu,” ucap ibu lembut. 


    “Dulu Bapak pernah bilang, agar kain ini dijahit supaya bisa kamu pakai. Tapi mesin jahit kita rusak. Mau dibawa ke tukang jahit pun uangnya dari mana?”


    Ufiq hanya mengangguk. Tapi di dalam dadanya, dia berjanji, “Aku akan belikan Ibu mesin jahit. Walau harus nyapu siang malam.”


***


    Keesokan paginya, Ufiq berpamitan kepada ibu untuk pulang malam. Ufiq meminta izin untuk mencari kerja tambahan selepas menyapu sekolah.


    “Apa kamu nggak capek, nak?”

    “Asalkan ibu terus tersenyum, Ufiq akan selalu kuat, bu.” 


    Ufiq meninggalkan rumah. Ibu terus memandanginya sembari desisan doa dari kedua bibirnya yang tak henti terdengar. Sampai bayang Ufiq tak terlihat.


***


    Matahari makin menguning, tetapi panasnya tak lagi menyengat. Ufiq mulai bekerja di bengkel jahit milik Pak Wiryo, seorang penjahit tua yang sudah lama pensiun tapi masih menerima tempahan dari warga desa.


    Ufiq tak digaji, tapi Pak Wiryo berjanji mesin jahit tua miliknya, yang rusak dan tak lagi dipakai, akan diberikan pada Ufiq jika ia mau membantu sampai selesai diperbaiki.


    “Jangan tanya kapan selesai,” kata Pak Wiryo. “Yang penting sabar dan bantu pekerjaanku.”


    Setiap hari, Ufiq membantu Pak Wiryo menyetrika, membersihkan benang, mengantar baju. Pulang larut, kadang hampir tengah malam. Setiap sampai rumah, lampunya selalu menyala redup. Ibunya biasanya tertidur di tikar ruang tamu. Makanan malam seringkali dingin dan tak tersentuh.


    “Oh, kamu sudah pulang, Nak?” suara ibu serak. Dia terbangun saat mendengar langkah kaki Ufiq.

    “Iya, bu. Ibu kok nggak tidur di kamar?”

    “Nggak papa, ibu menunggumu. Cepat makan dulu, nasinya sudah dingin.”

    Ufiq hanya diam, tetapi kedua tangannya segera menyambar sepiring nasi dengan lauk dua potong tempe goreng. Ia makan dengan lahap, meski benaknya sebenernya sedih, “Ini sementara, Bu. Nanti Ibu bisa jahit lagi. Kita makan bareng, Ibu pakai kacamata, aku bantu masukin benangnya.”


***


    Dua minggu berlalu. Ufiq jarang melihat ibunya terjaga. Beberapa kali ia mendengar batuk kecil dari dalam kamar, tapi ia terlalu lelah untuk bertanya.


    Suatu malam, saat pulang lebih awal karena listrik di bengkel padam, ia mendapati ibunya duduk memeluk lutut di dapur.


    “Kamu sudah makan, Nak?”


    “Belum, Bu. Ibu kenapa?”


    “Ibu cuma kecapekan. Nggak apa-apa. Kamu tiduran sana, capek ya kerja.”


    Ufiq mengangguk, lalu masuk kamar. Malam itu, ia tertidur lebih cepat, dan bermimpi ibunya menjahit sambil tersenyum. Tangannya gemetar, tapi matanya penuh cahaya.


    “Oh, Ibu. Maaf jika aku belum bisa menemanimu makan malam lagi. Semoga hari itu segera datang, aku pulang membawa mesin jahit yang engkau inginkan. Kemudian aku bisa menjagamu sepanjang malam, menyiapkan makanmu, menyelimuti tidurmu. Ibu, maafkan aku.”


***


    Akhirnya, hari itu datang. Mesin jahit tua itu selesai diperbaiki. Ufiq membantu mengangkatnya dari bengkel. Catnya sudah mengelupas, pedalnya berderit, tapi itu adalah mesin impian. Mesin yang akan membuat ibunya tersenyum lagi. Mesin yang akan menyambung impian ayah yang tertunda.


    “Terima kasih, ya, Pak Wir. Ibu pasti senang melihat mesin ini.”

    “Iya, Fiq, sama-sama. Semoga mesinnya bermanfaat. Segeralah pulang! Ibumu sudah menunggu.”

    “Iya, Pak. Assalamualaikum…” Dengan kayuhan penuh semangat, Ufiq membonceng mesin jahit yang baru ia terima pulang.


    Malam mulai larut, ketika ia membawa mesin itu pulang, ditutup karung goni dan diikat tali rafia.


    Hatinya penuh harap. Bahkan langit pun tampak lebih bersih malam itu. Ia berjalan cepat, membayangkan ibunya membuka pintu, menangis bahagia, lalu memeluknya erat.


    “Ibu!” panggilnya begitu sampai di depan rumah.


    Sunyi.


    Ufiq segera turun dan membawa mesin jahitnya ke dalam. Ia tak panik. Ia tahu ibunya biasanya duduk di kamar sebelah jendela, membaca atau merajut.


    Dengan semangat, ia meletakkan mesin itu di meja kecil. Dilepasnya karung pembungkusnya, lalu dibersihkannya dengan ujung kausnya.


    “Ibu!” panggilnya sekali lagi, sambil masuk ke kamar.


    Hening.


    Lampu redup menyinari tubuh ibunya yang terbaring di kasur. Tangannya bersedekap di atas dada, memegang sesuatu—baju batik berwarna cokelat dan biru.


    Wajahnya damai. Terlalu damai.


    Ufiq berdiri mematung.


    “Bu...?” bisiknya.


    Tak ada gerakan.


    “Bu... ini... mesinnya... udah...”


    Langkahnya lunglai. Ia duduk di samping kasur. Perlahan-lahan, ia menyentuh pipi ibunya. Dingin.


    Tangannya gemetar. Napasnya pendek. Ada benjolan di tenggorokan yang tak bisa ia telan. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tertahan di dada. Matanya mulai panas.


    “Ibu, ini… mesin jahitnya sudah Ufiq bawa pulang untuk Ibu,” cucuran air mata merembes memenuhi pipinya.

    “Bukankah, hari ini Ufiq akan menemani Ibu makan malam lagi? Bukankah malam ini Ufiq yang akan menggorengkan tempe untuk Ibu?”


    Ufiq memeluk ibunya erat-erat. Dia ingin tidur di sebelahnya sesuai janji. Bintang malam berkedip-kedip seperti ingin menangis. Sedangkan rembulan berusaha tetap tegar menyinari dengan cerahnya. Namun, ibu sudah pulang.


    “Tuhan, boleh jadi aku tak pernah makan enak sejak kecil. Boleh jadi aku hanya seorang tukang sapu. Tapi mengapa engkau ambil mata air bahagiaku. Harus jadi apa aku setelah ini?”


    Malam itu menjadi malam yang paling dingin bagi Ufiq. Malam yang tak nyinyir, tapi membawa kenyataan yang amat getir. Ufiq menyudahi sedihnya. Dia menyeka bagian wajahnya yang sempat dialiri air mata.


    Ufiq membetulkan posisi tidur ibunya. Mengambil sepotong baju yang selesai dijahit tangan yang didekapnya. Kemudian ia melihat selembar kertas di bawah baju batik itu. Sebuah surat. 


    Tangannya gemetar saat membuka dan membacanya.


    “Nak, terima kasih sudah berusaha untuk Ibu.

    Ini kain peninggalan Bapakmu, sudah Ibu jahit untukmu sesuai pesan beliau.

    Maaf, Ibu nggak bisa nunggu kamu lebih lama.

    Jaga diri baik-baik.”



**TAMAT**


Posting Komentar

0 Komentar